LEGENDA DESA KALIBENING
Penjajahan oleh Belanda kian hari
kian merajalela. Semua wilayah di Nusantara dikuasai oleh belanda tak
terkecuali daerah Jawa Tengah, khususnya daerah solo. Namun rakyat Indonesia
semakin gigih untuk memperjuangkan kemerdekaan. Pangeran Diponegoro adalah
salah satu tokoh pahlawan nasional yang paling ditakuti oleh tentara Belanda.
Meskipun telah gigih berjuang
Pangeran Diponegor dan para prajuritnya belum juga mampu mengalahkan tentara Belanda. Pada suatu hari perang sengit terjadi pada
zaman penjajahan antara pasukan Pangeran Diponegora dengan tentarra Belanda. Perang
tersebut berlangsung berhari-hari,sampai akhirnya pasukan Pangeran Diponegoro
terdesak dan mundur.
Pangeran Diponegoro tertangkap dan
sebagian pasukan ditawan ada juga yang mundur ke tempat yang aman. Pasukan Pangeran Diponegoro terus berlari
mencari tempat yang paling aman, ada yang kedaerah
Selatan,Utara,dan Barat. Pelarian pasukan Pangeran Diponegoro jauh sekali sampai
ada yang melarikan diri ke Kabupaten Banjarnegara. Salah satu prajurit Pangeran
Diponegoro yang bernama Raden Ngabehi Saryantaka. Dia melarikan diri bersama
istrinya ke ujung utara dari kabupaten Banjarnegara. Menembus hutan menaiki
gunung, sampai akhirnya menemukan tempat yang datar di daerah pegunungan. Tempat
ini sepi belum terpengaruhi, masih segar dan alami keadaannya. Raden Ngabehi
bersama istrinya memutuskan tinggal di tempat ini. Mereka hidup bahagia dan
tentram berdua sampai dikaruniai 2 orang anak laki-laki. Segala kebutuhan
terpenuhi, karena di tempat ini
menyediakan hasil alam yang berlimpah.
Sampai suatu hari kebahagiaan mereka
sedikit diuji. Kedua anak Raden Ngabehi tiba-tiba terjangkit suatu penyakit
yang aneh. Sekujur tubuh anak-anaknya mengalami gatal dan sedikit demi sedikit membusuk. Penyakit itu diobati dengan apapun tidak
kunjung sembuh. Sampai pada suatu hari Raden Ngabehi putus asa, dia pergi
meninggalkan rumah dan duduk termenung di pinggir sungai yang terletak di ujung utara derah yang menjadi tempat
tinggal mereka. Dia sedih sekali kedua anaknya menderita sakit yang tak kunjung
sembuh. Saat Raden Ngabehi melamun ,tiba-tiba ada sesosok bayangan kakek
berbaju putihyang datang mengahampiri. Kakek tersebut memberikan nasehat pada
Raden Ngabehi,
”Raden ....
bawa kedua anakmu ke sungai ini, kemudian mandikanlah mereka di sungai ini. Semua penyakit mereka pasti akan sembuh”.
Seketika itu Raden Ngabehi terbangun
dan dia mencari sosok kakek yang memberi nasihat. Setelah beberapa lama mencari
tidak juga ia menemukan sosok kakek itu. Akhirnya dia sadar kalo kakek yang
memberi naasihat tadi adalah sosok gaib yang masuk ke alam bawah sadar Raden
Ngabehi saat melamun. Kemudian dia teringat pada nasehat kakek tadi, akhirnya
Raden Ngabehipunmemutuskan pulang dan sessampainya di rumah ia menceritakan semua
kejadian di pinggir sungai tadi kepada istrinya. Setelah bermusyawarah, akhirnya
Raden Ngabehi dan istrinya membawa kedua anaknya ke sungai untuk memandikannya
sesuai nasihat kakek.
Pada pagi hari Raden Ngabehi
mengajak istri beserta anak-anaknya ke sungai. Setelah sampai di pinggir sungai,
Raden Ngabehi hendak langsung memandiakan putranya. Namun, istri Raden Ngabehi
melarangnya karena air sungai tersebut terlihat keruh dan kotor.
“Raden, apakah akan
menyembuhkan air sungai yang kotor dan keruh ini jika digunakan untuk memandikan
anak-anak?”
Kemudian, Raden Ngabehi berusaha meyakinkan
istrinya bahwa hal itu adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan anak-anaknya
dari sakit.
“istriku, ini
satu-satunya usaha yang harus kita lakukan untuk menyembuhkan sakit anak-anak
kita. Kita sudah mencoba semua obat, tapi tak ada satupun yang bisa
menyembuhkan mereka. Percayalah istriku, anak-anak kita akan baik-baik saja.”
Setelah lama Raden Ngabehi
meyakinkan, akhirnya istrinyapun luluh merelakan anak-anaknya untuk dimandikan
di sungai yang keruh dan kotor tersebut demi kesembuhan mereka. Dengan segera
Raden Ngabehi mamandikan kedua anaknya. Saat memandikan anak-anaknya, Raden
Ngabehi terkejut melihat air sungai yang tadinya keruh dan kotor tiba-tiba
berubah menjadi air yang jernih dan segar. Saat rasa kagum terhadap air sungai
yang berubah menjadi jernih beum hilang, tiba-tiba dia lebih dikejutkan lagi
dengan melihat luka yang ada pada sekujur anak-anaknya tiba-tiba hilang
seketika. Raden Ngabehi dan keluarganya benar-benar merasa heran dan seolah
tidak percaya. Namun mereka sangat bersyukur dengan keajaiban sembuhnya luka
anak-anaknya. Setelah selesai memandikan anak-anaknya, mereka pulang ke rumah
dengan rasa bahagia dan syukur kepada Tuhan.
Keseokan harinya, Raden Ngabehi
duduk santai di serambi rumah bersama istri dan anak-anaknya. Mereka terlihat
bahagia sekali, mereka bercerita tentang kejadian yang telah mereka alami
bersama. Sampai suatu ketika Raden Ngabehi sadar bahwa mereka belum pernah
menamai daerah yang menjadi tempat tinggal mereka selama ini. Setelah terjadi
peristiwa yang aneh pada saat Raden Ngabehi bersama istrinya memandikan
anak-anaknya di sungai, mereka sepakat ingin memberi nama pada tempat yang mereka
tinggali. Setelah berembug dengan istri
dan anak-anaknya, Raden Ngabehi akhirnya memberi nama “Desa Kalibening” pada
daerah yang mereka jadikan tempat
tinggal itu. Nama tersebut diambil dari bahas Jawa “desa” artinya tempat tinggal, “
Kali “ artinya sungai dan “bening”
artinya jernih. Raden Ngabehi memberikan nama “Desa Kalibening” dengan makna tempat tinggal yang mereka tempati
adalah daerah yang memiliki air sungai yang jernih. Desa tempat tinggal Raden Ngabehi
adalah desa yang makmur, tanaman juga bisa tumbuh subur dan memiliki sungai
yang jernih.
Nama “Desa Kalibening” yang
diberikan oleh Raden ngabehi tersebut telah abadi sampai dengan sekarang, dan
Desa Kalibening sekarang sudah menjadi bagian dari Kecamatan Kalibening yang
ada di Kabupaten Banjarnegara, propinsi Jawa Tengah.
Sumber : cerita para sesepuh masyarakat Desa Kalibening
yang dikembangkan oleh penulis menjadi cerita.
