Jumat, 05 Juni 2015

LEGENDA DESA KALIBENING



LEGENDA DESA KALIBENING

           Penjajahan oleh Belanda kian hari kian merajalela. Semua wilayah di Nusantara dikuasai oleh belanda tak terkecuali daerah Jawa  Tengah,  khususnya daerah solo. Namun rakyat Indonesia semakin gigih untuk memperjuangkan kemerdekaan. Pangeran Diponegoro adalah salah satu tokoh pahlawan nasional yang paling ditakuti oleh tentara Belanda.

            Meskipun telah gigih berjuang Pangeran Diponegor dan para prajuritnya belum juga mampu mengalahkan  tentara Belanda.  Pada suatu hari perang sengit terjadi pada zaman penjajahan antara pasukan Pangeran Diponegora dengan tentarra Belanda. Perang tersebut berlangsung berhari-hari,sampai akhirnya pasukan Pangeran Diponegoro terdesak dan mundur.

            Pangeran Diponegoro tertangkap dan sebagian pasukan ditawan ada juga yang mundur ke tempat yang aman.  Pasukan Pangeran Diponegoro terus berlari mencari  tempat  yang paling aman, ada yang kedaerah Selatan,Utara,dan Barat. Pelarian pasukan Pangeran Diponegoro jauh sekali sampai ada yang melarikan diri ke Kabupaten Banjarnegara. Salah satu prajurit Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Ngabehi Saryantaka. Dia melarikan diri bersama istrinya ke ujung utara dari kabupaten Banjarnegara. Menembus hutan menaiki gunung, sampai akhirnya menemukan tempat yang datar di daerah pegunungan. Tempat ini sepi belum terpengaruhi, masih segar dan alami keadaannya. Raden Ngabehi bersama istrinya memutuskan tinggal di tempat ini. Mereka hidup bahagia dan tentram berdua sampai dikaruniai 2 orang anak laki-laki. Segala kebutuhan terpenuhi, karena  di tempat ini menyediakan hasil alam yang berlimpah.

            Sampai suatu hari kebahagiaan mereka sedikit diuji. Kedua anak Raden Ngabehi tiba-tiba terjangkit suatu penyakit yang aneh. Sekujur tubuh anak-anaknya mengalami  gatal dan sedikit demi sedikit membusuk.  Penyakit itu diobati dengan apapun tidak kunjung sembuh. Sampai pada suatu hari Raden Ngabehi putus asa, dia pergi meninggalkan rumah dan duduk termenung di pinggir sungai yang terletak  di ujung utara derah yang menjadi tempat tinggal mereka. Dia sedih sekali kedua anaknya menderita sakit yang tak kunjung sembuh. Saat Raden Ngabehi melamun ,tiba-tiba ada sesosok bayangan kakek berbaju putihyang datang mengahampiri. Kakek tersebut memberikan nasehat pada Raden Ngabehi,

 Raden .... bawa kedua anakmu ke sungai ini, kemudian mandikanlah mereka  di sungai ini. Semua penyakit mereka pasti  akan sembuh”.

Seketika itu Raden Ngabehi terbangun dan dia mencari sosok kakek yang memberi nasihat. Setelah beberapa lama mencari tidak juga ia menemukan sosok kakek itu. Akhirnya dia sadar kalo kakek yang memberi naasihat tadi adalah sosok gaib yang masuk ke alam bawah sadar Raden Ngabehi saat melamun. Kemudian dia teringat pada nasehat kakek tadi, akhirnya Raden Ngabehipunmemutuskan pulang dan sessampainya di rumah ia menceritakan semua kejadian di pinggir sungai tadi kepada istrinya. Setelah bermusyawarah, akhirnya Raden Ngabehi dan istrinya membawa kedua anaknya ke sungai untuk memandikannya sesuai nasihat kakek.

            Pada pagi hari Raden Ngabehi mengajak istri beserta anak-anaknya ke sungai. Setelah sampai di pinggir sungai, Raden Ngabehi hendak langsung memandiakan putranya. Namun, istri Raden Ngabehi melarangnya karena air sungai tersebut terlihat keruh dan kotor.

“Raden, apakah akan menyembuhkan air sungai yang kotor dan keruh ini jika digunakan untuk memandikan anak-anak?”

 Kemudian, Raden Ngabehi berusaha meyakinkan istrinya bahwa hal itu adalah satu-satunya cara untuk menyembuhkan anak-anaknya dari sakit.

“istriku, ini satu-satunya usaha yang harus kita lakukan untuk menyembuhkan sakit anak-anak kita. Kita sudah mencoba semua obat, tapi tak ada satupun yang bisa menyembuhkan mereka. Percayalah istriku, anak-anak kita akan baik-baik saja.”

Setelah lama Raden Ngabehi meyakinkan, akhirnya istrinyapun luluh merelakan anak-anaknya untuk dimandikan di sungai yang keruh dan kotor tersebut demi kesembuhan mereka. Dengan segera Raden Ngabehi mamandikan kedua anaknya. Saat memandikan anak-anaknya, Raden Ngabehi terkejut melihat air sungai yang tadinya keruh dan kotor tiba-tiba berubah menjadi air yang jernih dan segar. Saat rasa kagum terhadap air sungai yang berubah menjadi jernih beum hilang, tiba-tiba dia lebih dikejutkan lagi dengan melihat luka yang ada pada sekujur anak-anaknya tiba-tiba hilang seketika. Raden Ngabehi dan keluarganya benar-benar merasa heran dan seolah tidak percaya. Namun mereka sangat bersyukur dengan keajaiban sembuhnya luka anak-anaknya. Setelah selesai memandikan anak-anaknya, mereka pulang ke rumah dengan rasa bahagia dan syukur kepada Tuhan.

            Keseokan harinya, Raden Ngabehi duduk santai di serambi rumah bersama istri dan anak-anaknya. Mereka terlihat bahagia sekali, mereka bercerita tentang kejadian yang telah mereka alami bersama. Sampai suatu ketika Raden Ngabehi sadar bahwa mereka belum pernah menamai daerah yang menjadi tempat tinggal mereka selama ini. Setelah terjadi peristiwa yang aneh pada saat Raden Ngabehi bersama istrinya memandikan anak-anaknya di sungai, mereka sepakat  ingin memberi nama pada tempat yang mereka tinggali. Setelah berembug  dengan istri dan anak-anaknya, Raden Ngabehi akhirnya memberi nama “Desa Kalibening” pada daerah  yang mereka jadikan tempat tinggal itu. Nama tersebut diambil dari bahas Jawa “desa” artinya tempat tinggal, “ Kali “ artinya sungai dan “bening” artinya jernih. Raden Ngabehi memberikan nama “Desa Kalibening” dengan makna tempat tinggal yang mereka tempati adalah daerah yang memiliki air sungai yang jernih. Desa tempat tinggal Raden Ngabehi adalah desa yang makmur, tanaman juga bisa tumbuh subur dan memiliki sungai yang jernih.

            Nama “Desa Kalibening”  yang diberikan oleh Raden ngabehi tersebut telah abadi sampai dengan sekarang, dan Desa Kalibening sekarang sudah menjadi bagian dari Kecamatan Kalibening yang ada di Kabupaten Banjarnegara, propinsi Jawa Tengah.

Sumber : cerita para sesepuh masyarakat Desa Kalibening 
yang dikembangkan oleh penulis menjadi cerita.

Kamis, 04 Juni 2015

Bilangan 5 yang "istimewa"



“KOK BISA YA....?”

Mari luangkan waktu sebentar untuk tersenyum dengan temuan hal sepele yang biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, pada kesempatan ini saya menemukan fakta unik dari sebuah pembagian bilangan kelipatan lima dengan bilangan lima itu sendiri.

Pernahkah anda semua menemukan fakta ini :

105=2, diperoleh dari 105=(1×2)+(05)=(2+0)=2
1005=20, diperoleh dari 1005=(10×2)+(05)=(20+0)=20
255=5, diperoleh dari 255=(2×2)+(55)=(4+1)=5
1255=25, diperoleh dari 1255=(12×2)+(55)=(24+1)=25
3255=65, diperoleh dari 3255=(32×2)+(55)=(64+1)=65
1.4655=293,diperoleh dari 1.4655=(146×2)+(55)=(292+1)=293

Silahkan anda memahaminya sendiri, kalo ada yang salah mohon dikoreksi,
Sengaja tidak saya simpulkan, agar anda semua ikut belajar dan membuat kesimpulan sendiri,
cobalah dengan menggunakan bilangan kelipatan lima lainnya,
Semoga menambah pengalaman.....

"MATEMATIKA MEMANG MENYENANGKAN"

Selasa, 02 Juni 2015

Sekolah Harmonis

Sekolah merupakan sebuah institusi yang menyelenggarakan pendidikan, dimana di dalamnya terdapat unsur-unsur yang membangun institusi tersebut. Mulai dari gedung, siswa, pendidik/tenaga kependidikan, kurikulum, sarana prasarana dan manajemen sekolah baik secara internal maupun ekternal. meskipun buan kunci pokok, manajemen sekolah bisa dikatakan sebagai suatu bagian yang sangat menentukan pada keberhasilan pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada umumnya, meskipun unsur yang lain tidak boleh kita kesampingkan. Manajemen sekolah erat hubungannya dengan kegiatan penataan sekolah secara holistik. Kegiatan manajemen tentu saja dikelola oleh seorang manajer, dalam hal ini yang berkedudukan sebagai manajer adalah kepala sekolah. Pada sekolah dasar jabatan kepala sekolah disematkan kepada seorang guru yang dinilai sudah memiliki kemampuan lebih dari sekedar mendidik, kemampuan yang maksud adalah kemampuan dalam hal memimpin dan mengelola sekolah sebagai institusi pembelajaran. 
Biasanya seorang calon kepala sekolah akan dipersiapkan melalui diklat terlebih dahulu oleh lembaga yang bertugas menangani perihal kompetensi kepala sekolah. Harapannya setelah calon kepala sekolah selesai mengikuti diklat kepala sekolah, mereka akan siap terjun ke sekolah dengan label kompetensi telah mumpuni. Banyak kepala sekolah yang cakap dan lihai dalam memanajemen sekolah yang mereka pimpin, dengan membuat program kerja bagus, melengkapi sarana prasarana dan mempercantik gedung sekolah. Tapi, tidak sedikit kepala sekolah yang tidak bisa melakukan kegiatan manajemen di sekolah yang mereka pimpin karena beberapa faktor, bisa karena krang cakap, karena ada intervensi dari guru senior atau bahakan intervensi dari mantan kepala sekolah yang ada di sekolah tersebut, atau juga karena merasa masih muda sehingga serba salah dalam bahasa jawanya "ewuh pekewuh". Semua kategori kepemimpinan kepala sekolah seperti di atas sering kita temui. 
Pada kesempatan ini, saya akan berbagi sedikit pengalaman tentang keharmonisan keluarga di sekolah (khususnya di sekolah dasar) yang bisa dijadikan pondasi awal untuk membangun manajemen sekolah yang baik. Menurut saya, sekolah ibarat sebuah keluarga. Di dalam keluarga ada kepala keluarga, ibu rumah tangga dan anak-anak. Begitu juga di sekolah, ada kepala keluarga dalam hal ini di perankan oleh kepala sekolah, ada ibu rumah tangga dalam hal ini di perankan oleh guru-guru dan karyawan dan ada anak-anak yang dalam hal ini adalah anak didik. Sebuah keluarga akan bisa mewujudkan cita-citanya manakala keluarga tersebut selalu harmonis, begitu juga sekolah akan dapat mencapai visi dan misinya manakala sekolah tersebut harmonis. Bagaimana sekolah bisa harmonis ? tentu saja jawabannya  tidak beda jauh dengan cara membangun keluarga yang harmonis. Keluarga yang harmonis terbangun daripada hubungan yang baik antara anggota keluarga, hubungan yang baik terjalin karena semua anggota keluarga bisa saling menghormati, mengharagai, memahami dan membantu satu sama lain. Kemudian tercukupinya hak dan kewajibannya masing-masing dengan proporsional.
Sekolahpun sama halnya dengan keluarga, sekolah akan harmonis bilamana hubungan yang baik antara warga sekolah dengan saling menghormati, mengharagai, memahami dan membantu satu sama lain. Kemudian tercukupinya hak dan kewajibannya masing-masing dengan proporsional. Kontrol harmonisasi tetntu saja berada pada pundak seorang leader yaitu kepala sekolah. Bagaimana caranya? caranya adalah dengan memberikan keteladanan kepada seluruh warga sekolah. Keteladanan kepala sekolah akan memberikan umpan positif bagi para guru dan karyawan yang nantinya akan tercermin sebagai keteladanan mereka terhadap anak didik di sekolah. Jika keteladanan sudah menjadi budaya yang baik, maka sangatlah mudah untuk menjalin komunikasi yang baik antar sesama warga sekolah. Komunikasi yang baik ini yang dapat dijadikan indikator keharmonisan warga sekolah di sekolah. Saat sekolah telah harmonis, maka program sekolah bisa dibahas dan direalisasikan sesuai tepat sasaran dan target waktu yang telah ditentukan.
Oleh karena itu, semua warga sekolah hendaknya saling menyadari betapa pentingnya sebuah keharmonisan dalam sekolah. Karena keharmonisan itulah yang akan mengantarkan sekolah berkembang menjadi sekolah yang lebih baik.